DALOK, PENGHORMATAN TERAKHIR

wartasintang.com: Kematian anggota keluarga merupakan hal yang menimbulkan banyak kesedihan. Ada banyak cara mengenang dan menghormati kenangan akan keluarga yang telah meninggal. Masyarakat Uud Danum memiliki tradisi unik terkait hal ini.

“Setelah mereka meninggal, kami tidak hanya menguburkan keluarga. Saat sudah merasa mampu, kami akan mengadakan acara adat dalok. Ini kami ingin memberikan penghormatan tertinggi dan terakhir untuk anggota keluarga kami, dengan membuat sepunduk dan menyimpan relikwi anggota keluarga untuk disimpan di dalam Sandung,” ujar Rudy Andryas, anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Sintang disela-sela kegiatan Dalok yang diadakan oleh keluarga Hubertus Wake, Jumat (8/7/2022).

“Tradisi ini merupakan warisan dari nenek moyang yang harus kita lestarikan keberadaannya. saya berharap akan ada dokumentasi-dokumentasi yang baikdan dalam bentuk digital untuk upacara Dalok ini supaya bisa disaksikan oleh banyak orang dan menjadi warisan Sintang dan warisan dunia,” tambah Politisi Partai Nasdem itu lagi.


Upacara adat Dalok ini diperuntukkan untuk almarhum Hendrikus Paso. Beliau adalah seorang tokoh masyarakat dari Serawai. Upacara Dalok ini sudah dimulai oleh keluarga sejak 17 Juni 2022 dengan melakukan pengantaran sepunduk atau patung kayu belian bentuk manusia. Kegiatan upacara Dalok dapat dilakukan selama berhari-hari bahkan sampai sebulan tergantung dengan kemampuan keluarga dalam menyiapkan kelengkapan pesta, seperti makanan dan minuman.

kemudian pada hari puncak kegiatan, keluarga menyembelih hewan kurban sambil melantunkan teriakan Hololo diiringi dengan tabuhan gong dan selekanong (gong-gong kecil) sambil mengelilingi sepunduk. Kemudian anggota keluarga duduk di atas sapi yang telah mati sambil didoakan oelh ketua adat. terakhir, dilakukan prosesi Naloh, pembongkaran tempat borampalik dan kemudian tulang diantar kembali ke kuburan almarhum yang di Dalok kan.

“Ini adalah upacara penghormatan dimana kami mau agar bapak kami dikenangkan dengan layak dan lebih baik secara khusus untuk anak cucunya. secara umum hal ini bisa menjadi bahan menjadi dokumentasi budaya yang khas yang cuma ada di masyarakat dayak Uud Danum. Jadi bukan hanya soal besarnya pesta yang diadakan inikan tergantung pada kemampuan keluarga saja tapi lebih pada nilai adatnya,” ujar Bertus. (*)